Komik Seri Bung Karno Bapak Bangsa: Pendidikan Nasionalisme untuk Segala Usia

DKI Jakarta Oleh

Admin PDIP Kreatif

| 12/06/2020

PDI Perjuangan dalam melaksanakan tugas sejarah demi menggelorakan semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang dijiwai nilai-nilai kebangsaan.

Masih ingatkah kau arti kata-kata: Tat Twam Asi, Tat Twam Asi artinya, dia adalah aku dan aku adalah dia; engkau adalah aku dan aku adalah engkau. Bukankah engkau sudah diperintahkan untuk melindungi makhluk Tuhan? Coba katakan padaku apa sebenarnya hakekat burung dan telur itu? Soekarno kecil pun menjawab, mereka adalah ciptaan Tuhan.

Demikian salah satu nasehat, ajaran Raden Soekemi kepada Soekarno semasa anak-anak yang tergambar dalam Komik Seri “Bung Karno Bapak Bangsa (1901-1945)”. Komik sejarah ini dibuat oleh Kepala Pusat Analisa dan Pengendali Situasi (Situation Room) PDI Perjuangan, Prananda Prabowo dan diluncurkan bertepatan dengan HUT PDI Perjuangan ke-46 di JIExpo Kemayoran Jakarta pada hari Kamis, 10 Januari 2019 lalu. Komik tersebut dibagikan kepada seluruh peserta dan undangan yang menghadiri perayaan ulang tahun.

Percakapan antara Soekemi dengan Soekarno kecil mengingatkan kita kepada naskah klasik karya cendikiawan India kuno, Pandit Vishnu Sharma. Pandit menulis Panca Tantra sebagai sastra penuntun kebijaksanaan hidup (nitisastra) sekira 200 tahun sebelum Masehi. Melalui cerita fabel, Pandit menyampaikan etika dan moralitas kehidupan yang mudah dipahami oleh semua orang.

Kembali kepada tujuan penerbitan komik “Bung Karno Bapak Bangsa”, dilakukan PDI Perjuangan dalam melaksanakan tugas sejarah demi menggelorakan semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang dijiwai nilai-nilai kebangsaan. Komik akan dibuat serial sesuai alur kehidupan dan aktivitas Bung Karno sebagai Bapak Bangsa Indonesia Merdeka.

Komik seri tahun 1901-1945 berisi 36 halaman ini menceritakan kisah hidup Bung Karno sejak lahir hingga terpilih menjadi Presiden pertama RI pada 18 Agustus 1945. Diawali gambar situasi Surabaya yang menjadi kota kelahiran Soekarno semasa kolonial. Di kota pelabuhan itulah kedua orang tua Soekarno bermukim setelah hijrah dari Bali.??Detail kisah hidup Soekarno sejak kecil juga disampaikan dalam komik. Ida Ayu Nyoman Rai, ibunda Soekarno perempuan gigih pekerja keras memberinya bekal nilai-nilai kesatriaan melalui kisah Perang Puputan, Bali. Komik juga menyuguhkan sejarah pendidikan Soekarno di Eerste Inlandsche School atau Sekolah Dasar Bumiputra dan Europeesche Lagere School (ELS) di Mojokerto.??Saat menginjak usia 14 tahun, H.O.S. Tjokroaminoto menempa langsung kesadaran berorganisasi Soekarno. Tjokroaminoto adalah guru dari para pendiri bangsa. Soekarno kerap diajak Tjokroaminoto menemaninya ke berbagai pertemuan Sarekat Islam. Diam-diam Soekarno menyimak gaya berpidato Tjokroaminoto. Kemampuan Soekarno menuangkan ide dan pemikiran juga tersalurkan. Ia mulai menulis untuk Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima, tokoh epos Mahabharata. Edisi contoh Oetoesan Hindia sudah beredar pada 5 Desember 1912. Sejak 1 Januari 1913 Oetoesan Hindia menjadi organ resmi Sarekat Islam dan dipimpin langsung oleh Tjokroaminoto. Media ini diterbitkan di Surabaya oleh NV Setia Oesaha.

Soekarno kemudian juga bergabung dengan Tri Koro Dharmo embrio organisasi kepemudaan Jong Java. Soekarno pula yang memperkenalkan sebutan peci saat pertemuan Jong Java di Surakarta pada 1921. Istilah peci diambil dari petje dalam bahasa Belanda yang artinya kopiah atau topi kecil. Sejak saat itu, peci populer di kalangan kaum pergerakan para pejuang kemerdekaan.

Komik juga mengisahkan masa kuliah Bung Karno di Technische Hooge School yang menjadi cikal bakal Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada masa itu Bung Karno mengenal Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusomo, dan tokoh pergerakan lainnya. Kisah hidup Soekarno memulai aktivitas politik kepartaian juga diceritakan, termasuk bagaimana Soekarno harus menghadapi proses hukum di pengadilan kolonial Hindia Belanda, termasuk kisah pengasingan serta pergulatan pemikirannya.??Setelah diasingkan, diceritakan Soekarno semakin mengobarkan perlawanan rakyat. Bersama Hatta, mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dengan berbagai strategi.  Perjuangan Soekarno dan kawan-kawannya membuahkan hasil. Soekarno memanfaatkan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bentukan Jepang guna membulatkan tekad untuk merdeka.??Dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Soekarno memperkenalkan Pancasila. Kemudian, hasil penggaliannya tentang Pancasila itu yang akhirnya masuk dalam Pembukaan UUD 1945. Akhirnya pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di hadapan sekitar 300 orang di Jakarta. Sehari kemudian sidang PPKI mendaulat Soekarno sebagai presiden, sedangkan Bung Hatta sebagai wakilnya.

Pada sampul komik bagian belakang, Prananda Prabowo cucu Bung Karno mencantumkan “Dedication of Life”. Berikut tulisan tangan kakeknya dalam ejaan Bahasa Indonesia tempo dulu atau ejaan Van Ophuijsen. 

Saja adalah manusia biasa, 
saja dus tidak sempurna. 
Sebagai manusia biasa saja tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.
Hanja kebahagiaanku ialah mengabdi kepada Tuhan, 
kepada Tanah Air, kepada Bangsa.
 Itulah “dedication of life”ku.

Djiwa pengabdian inilah jang mendjadi falsafah hidupku, 
dan menghikmati serta mendjadi bekal hidup dalam seluruh gerak hidupku.
Tanpa djiwa pengabdian ini saja bukan apa-apa. 
Akan tetapi dengan djiwa pengabdian ini, 
saja merasakan hidupku bahagia dan manfaat.
Soekarno, 10/9/’66

klik gambar di atas untuk mengunduh komik Bung Karno Bapak Bangsa