Makna Hidup Berbagi dari Secangkir Wedang, Ngaliwet Hingga Talaman

Jawa Timur Oleh

Admin PDIP

| 25/03/2019

Mengingat minuman atau wedang adalah ingatan akan hidup untuk berbagi dan tidak mementingkan kepentingan diri sendiri

Ting…ting…ting, bunyi mangkok putih beradu dengan sendok. Nyaring terdengar hingga kamar belakang. Bergegas kaki keluar membuka pintu, menghampiri penjaja sekoteng keliling yang hampir saban malam bersama pikulannya melintasi depan rumah. Uap air sekoteng mengepul dari dalam panci. Harum aroma daun pandan menyergap hidung. Melambungkan rasa ingin segera menyeruput. Terbayang campuran jahe dalam kuah yang panas. Pas sekali sebagai penghangat tubuh saat hujan deras mengguyur.

Minuman atau wedang sekoteng khas Jawa tengah ini terbuat dari racikan rempah jahe dengan kacang hijau, kacang tanah, pacar cina, dan potongan roti. Sebuah komposisi yang beragam, padu padan antara minuman dan camilan.

Masyarakat Jawa menyebut minuman dengan nama wedang. Bisa jadi sebutan wedang berasal dari dua anagram (jenis permainan kata yang huruf-huruf di kata awal biasanya diacak sehingga membentuk kata lain atau sebuah kalimat). Pertama, berasal dari kata “ngawe kadhang” artinya, memanggil saudara. Kedua, berasal dari kata “nggawe kadhang” bermakna membuat atau membangun persaudaraan. Kedua kata itu kemudian diambil suku kata belakangnya saja menjadi “we-dang” digunakan untuk menyebut minuman yang dimaksudkan untuk membangun persaudaraan.

Mengingat minuman atau wedang adalah ingatan akan hidup untuk berbagi dan tidak mementingkan kepentingan diri sendiri. Seperti halnya ketika ada tamu sedang berkunjung ke rumah. Spontan kita menawarkan, “Mau minum apa?” Segelas air putih, secangkir wedang kopi, teh manis, atau teh tawar bukan hanya pelepas dahaga, namun menjadi alat sekaligus simbol yang mengandaikan untuk selalu rela berbagi dengan sesama. Baik dalam keberlimpahan maupun dalam keterhimpitan.

Berbagi berarti melampaui kuatnya belenggu kepemilikan atas diri dan hidup itu sendiri. Hanya mereka yang sungguh-sungguh memiliki hati yang sudah tidak terbelenggu mampu berbagai hidup, termasuk berbagi minum dalam jamuan wedangan.

Dalam tradisi Jawa terdapat ungkapan tentang hidup dan keberminuman. Urip pancen kudu ngombe, ananging ngobe sakjroning urip ora keno nganggo wathon. Amarga sejatining urip iku bebasane mung koyo mampir ngombe. Ungkapan itu kurang lebih berarti; hidup memang harus minum, namun minum dalam hidup tidak boleh dilakukan secara asal dan tidak membabi buta. Sebab hidup sejati tak ubahnya seperti orang mampir minum.

Sikap hidup yang membabi buta bukanlah sikap seorang ksatria atau pendeta, melainkan sikap seorang raksasa yang hanya berjalan dengan mengikuti hawa nafsu semata. Sikap hidup ini dipandang sebagai sikap hidup yang tidak sejati, melainkan sikap hidup yang lupa asal usul atau lali marang sangkan paraning dumadi. Sehingga tidak mengetahui arah tujuan hidup pribadi, bermasyarakat, maupun berbangsa. Lupa akan gotong royong sebagai inti semangat kehidupan.

Nilai saling berbagi tidak hanya ada dalam tradisi Jawa, tapi juga terdapat di negeri lain seperti Jepang, Cina, Srilanka, India, Arab, Amerika, dan bangsa Eropa. Upacara minum teh di Jepang memiliki posisi budaya sangat penting yang mungkin sama pentingnya dengan upacara anggur dalam perayaan Ekaristi dalam tradisi Nasrani. (Lohjati, 2011)

Ada tradisi minum bersama, begitu pula makan bersama. Masyarakat Sunda di Jawa Barat mengenal tradisi ngaliwet. Ngaliwet berarti memasak nasi liwet, nasi yang hanya ditanak sekali dan dicampur rempah-rempah sehingga nasi lebih beraroma dan enak. Bukan hanya acara makan bersama tapi ada nilai kebersamaan di dalamnya. Mulai dari patungan biaya, membeli bahan makanan, menyumbang bahan makanan mentah hingga memasak bersama.

Sementara bagi para santri yang tinggal di pondok pesantren, talaman merupakan sebutan tradisi makan bersama. Memasak bersama kemudian dimakan ramai-ramai dalam satu talam adalah wujud elan kebersamaan serta kerukunan. Kebiasaan tersebut seringkali berbuah kenangan tersendiri ketika seorang santri telah menyelesaikan pendidikannya. (Pram)