Wisata Kuliner Strategi Mewujudkan Kedaulatan Pangan DI YOGYAKARTA
Oleh

pdipkreatif

| 23/12/2018

Wisata kuliner diharapkan akan mampu menambah wawasan masyarakat tentang keanekaragaman kuliner nusantara sehingga mengurangi ketergantungan terhadap komoditas pangan tertentu.

Indonesia terkenal dengan kekayaan kulinernya. Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki kuliner khas yang hanya terdapat di daerah tersebut. Bagi daerah yang sudah memiliki kesadaran wisata tinggi, maka produk kuliner mereka di kemas secara professional agar menarik minat wisatawan kuliner untuk mencicipi dan kemudian membelinya. Namun tidak sedikit wisatawan yang justru mencari kemasan produk yang apa adanya agar originalitas kuliner tersebut dapat terjaga. Salah satu contohnya adalah Telo Mangul yang tumbuh di Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Jenis ubi jalar ini sangat unik karena hanya dapat tumbuh pada wilayah tertentu. Kuliner ini juga cukup mengenyangkan sehingga tidak perlu lagi makan nasi setelah makan kuliner ini. Telo mangul dapat menjadi produk pangan substitusi yang menggantikan nasi untuk masyarakat disekitar wilayah Kabupaten Semarang. Sehingga, kebutuhan nasi akan berkurang dan otomatis produksi padi akan berlebih dan cukup untuk diekspor. Selain bermanfaat bagi kesehatan, konsumsi telo mangul juga dapat menekan impor beras dikarenakan menurunnya kebutuhan nasi yang sudah diganti dengan telo tersebut. Lantas bagaimana hal ini mampu mewujudkan kedaulatan pangan?

Pertama, mengkonsumsi produk pangan substitusi akan menyelesaikan permasalahan ketersediaan pangan. Masyarakat tidak bergantung kepada 1 (satu) jenis pangan saja, sehingga kebutuhan pangan akan bergeser kepada variasi pangan. Kita dapat memproduksi dan mengkonsumsi pangan yang tersedia sesuai kondisi lahan yang ada. Jika mindset pola konsumsi pangan masyarakat telah bergeser dari “belum makan kalau belum makan nasi” menjadi “makan gandum atau ubi sama dengan makan nasi”, maka kebutuhan pangan tertentu (misalnya beras) menurun sehingga ketersediaan akan selalu memenuhi kebutuhan dan impor dapat dikurangi secara perlahan. Pengenalan keanekaragaman kuliner Indonesia secara otomatis memperkenalkan keanekaragaman pangan kepada masyarakat sehingga kesadaran masyarakat terhadap adanya alternatif pangan lainnya akan meningkat.

Kedua, prinsip mengkonsumsi pangan yang terdapat di wilayah sekitar masyarakat tinggal akan menyelesaikan permasalahan aksesibilitas. Mencari ubi jalar untuk masyarakat di Kabupaten Semarang pada khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya relatif lebih mudah.  Tentu, solusi lain dari pemerintah juga diperlukan seperti adanya Tol Laut yang dapat mengirimkan Sapi dari Bima ke Jakarta misalnya sehingga masyarakat dapat membeli dengan harga yang sedikit lebih murah. Pada prinsipnya, distribusi pangan ke daerah yang membutuhkan menjadi kunci keberhasilan utama dalam menanggulangi permasalahan aksesibilitas ini.

Ketiga, ketika permintaan terhadap pangan tertentu menurun dan penurunannya lebih besar dari ketersediaan pangan tersebut, sehingga harga juga akan turun. Stabilitas harga pangan akan mampu terwujud ketika permintaan dapat dikendalikan dan ketersediaan serta aksesibilitas terhadap pangan meningkat. Meningkatkan konsumsi pangan substitusi seperti yang sudah dibahas sebelumnya juga akan berkontribusi dalam meningkatkan stabilitas harga pangan.

Ketiga hal diatas dapat diwujudkan jika pengetahuan masyarakat luas terhadap kekayaan kuliner Indonesia semakin meningkat. Pengetahuan yang dimaksud bukan hanya sekedar nama, bentuk dan rasa kulinernya saja, namun juga kandungan gizi serta manfaatnya bagi metabolism tubuh manusia. Masyarakat akan memiliki banyak varian kuliner yang dapat dipilih, baik untuk dibeli maupun untuk dimasak di rumah. Hal ini mungkin dilakukan jika wisata kuliner mampu dikemas secara komprehensif untuk tidak sekedar menghadirkan rasa, namun juga knowledge yang ada dibalik kuliner tersebut. Tentunya, tantangan ini juga tidak mudah untuk dilakukan namun paling tidak mampu menjadi roadmap alternatif dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

Wisata kuliner diharapkan akan mampu menambah wawasan masyarakat tentang keanekaragaman kuliner nusantara sehingga mengurangi ketergantungan terhadap komoditas pangan tertentu. Impor pangan akan menurun karena kebutuhan pangan dalam negeri dapat dipenuhi oleh produksi pangan dalam negeri. Hal ini berarti masyarakat kita sudah mandiri dalam menentukan produksi dan konsumsi pangannya sendiri. Selain itu, wisata kuliner juga akan meningkatkan aksesibilitas pangan, karena setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan kuliner tersendiri. Masyarakat akan mudah membeli pangan pokok dimanapun dia berada, sehingga kemandirian dalam mendapatkan pangan juga akan meningkat. Kemudian stabilnya ketersediaan dan aksesibilitas pangan, diikuti stabilnya supply and demand pangan nasional akan menyebabkan harga menjadi stabil dan terjangkau. Tidak akan ada lagi alasan rasional yang mengharurkan bangsa Indonesia untuk impor pangan dari negara lain. Sehingga, hal ini dapat terwujud, maka Indonesia dapat menentukan kebijakan pangannya sendiri dan Kedaulatan Pangan nasional akan segera terwujud. M Herviano