Wisata Desa di Desa Wisata Sebagai Perwujudan Pariwisata Trisakti DKI JAKARTA
Oleh

pdipkreatif

| 23/12/2018

Pariwisata yang berbasis pada penguatan kearifan lokal, pengembangan nilai-nilai budaya, toleransi dan gotong royong

Pariwisata yang berbasis pada penguatan kearifan lokal, pengembangan nilai-nilai budaya, toleransi dan gotong royong

Wisata desa merupakan aktifitas wisata yang dilakukan pada objek wisata di Desa Wisata, dimana Desa Wisata dimaksud merupakan desa dengan suasana yang mencerminkan keaslian desa baik dari sosial ekonomi, budaya dan berbagai potensi unik desa yang telah dikembangkan menjadi komponen wisata seperti pesona alam desanya yang indah, kuliner khas, cindera mata, homestay  dan lainnya.

Dalam konteks ini, Pariwisata Trisakti dimaknai sebagai berikut:

“Pariwisata yang berbasis pada penguatan kearifan lokal, pengembangan nilai-nilai budaya, toleransi dan gotong royong, dengan melibatkan masyarakat setempat yang memanfaatkan potensi alam, sosial-budaya secara berkelanjutan serta didukung oleh strategi pemasaran efektif yang mampu menimbulkan pertumbuhan, penguatan dan pemerataan ekonomi nasional”

Membedah syarat-syarat sebuah destinasi wisata, kita dihadapkan pada konsepsi 3A yaitu: Aksesibilitas, Amenitas dan Atraksi, bahkan beberapa ahli menambahkan unsur A ke-4 yaitu: Ancillary (tambahan). Saya pribadi cenderung menambahkan 2 butir unsur lagi yaitu Sumber Daya Manusia dan sustainability sehingga secara keseluruhan sebuah destinasi wisata harus memenuhi syarat-syarat: 4A+2S.

Memadukan unsur Pariwisata Trisakti dan syarat-syarat sebuah destinasi, maka jelas bahwa Pariwisata Trisakti mengedepankan daya tarik pariwisata (Atraksi) pada potensi alam dan sosial budaya masyarakat, yang memang menjadi kekuatan utama Indonesia yang berdaya saing global. Pariwisata Trisakti berpusat pada nilai-nilai dasar manusia Indonesia sebagai modal utama pembangunan pariwisata, khususnya nilai-nilai toleransi dan gotong-royong, yang hakekatnya mendukung unsur Sumber Daya Manusia yang juga merupakan syarat dasar sebuah destinasi.

Menilik dari kedua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, Pariwisata Trisakti secara langsung identik dengan konsep “Community based tourism” yang diperluas dengan mengadopsi nafas ke-Indonesiaan dan didukung oleh pemasaran efektif dengan tujuan akhir adalah kesejahteraan manusia Indonesia.

Menemukan atraksi alam dan budaya berarti menggali kearifan lokal masyarakat yang masih bertahan dan tumbuh di desa-desa. Oleh sebab itu muncullah desa sebagai unsur Atraksi yang kemudian disebut sebagai “wisata desa”, dimana “desa” nya menjadi daya tarik dan karena letaknya di desa, maka desanya menjadi desa wisata, dalam hal ini memenuhi fungsi Amenitas. Dengan demikian mengembangkan daya tarik alam dan budaya di Indonesia adalah mengembangkan wisata desa di desa wisata.

Tentunya tidak semua desa memiliki potensi dan mampu diberdayakan sebagai desa wisata. Disamping syarat utama memiliki daya tarik yang berdaya saing global, tentu masyarakat desa tersebut harus mendukung penuh kegiatan pariwisata ini. Masyarakat  harus sadar bahwa pariwisata tidak semata-mata membawa kebaikan, namun juga terdapat dampak-dampak negatif yang menyertainya, termasuk dampak negatif secara ekonomi, sosial-budaya serta lingkungan. 

Dengan adanya atraksi berdaya saing global serta dukungan dan kesadaran masyarakat, maka desa wisata perlu melengkapi syarat-syarat lainnya yaitu:

Amenitas (fasilitas), dalam hal ini amenitas yang paling  dasar adalah akomodasi dan tempat makan, maka langkah selanjutnya adalah membangun “homestay” atau pondok wisata dengan mengedepankan daya tarik kuliner berbahan baku lokal.

Aksesibilitas,  jalur dan sarana transportasi merupakan urat nadi sehingga wisatawan dapat dengan mudah menjangkau destinasi wisata tersebut. Secara umum pembangunan infrastruktur transportasi tidak hanya bermanfaat bagi pariwisata namun juga sektor-sektor ekonomi lainnya dengan terbukanya jalur distribusi.

Unsur Ancillary (tambahan) dalam hal ini bisa dimaknai sebagai unsur penunjang dimana salah satunya adalah Kelembagaan. Kelembagaan desa wisata sangat penting sebagai pengejawantahan kekuatan sosial, toleransi dan gotong-royong masyarakat. Kelembagaan ini berfungsi memfasilitasi, menjalin hubungan dengan pihak ketiga, penyelesaian masalah dan konflik, menjamin keamanan serta membangun kebersamaan. Kelembagaan ini merupakan jaring pengaman dari dampak-dampak negatif pariwisata baik berupa dampak ekonomi, sosial maupun perubahan sikap masyarakat akibat benturan budaya dan tak kalah pentingnya dalam hal perlindungan lingkungan. Singkatnya, kelembagaan ini berperan dalam hal menjamin keberlanjutan (sustainability).

Desa wisata yang telah memenuhi unsur-unsur diatas tentunya harus dipasarkan secara efektif dan efisien. Strategi pemasaran yang efektif dan efisien dimulai dengan mengenali daya tarik masing-masing desa wisata, serta menilai daya saingnya dibanding daya tarik wisata sejenis. Untuk meningkatkan daya saing, nilai-nilai kreatif menjadi hal yang utama. Setelah mengenali potensi (“What”) dan daya saing maka target pasar dapat di tentukan. Penentuan target pasar (“Who”) sangat kritikal karena inilah dasar dari strategi pemasaran selanjutnya dimana unsur “When”, “Where”, “How” nya dapat diterapkan untuk mendapatkan kesesuaian produk dan pasar (product-market fit). Cipto Aji Gunawan