Jembatan Holtekamp

Papua Oleh

Admin PDIP Kreatif

| 18/05/2019

Ibu kota Provinsi Papua, Jayapura, memiliki ikon baru berupa jembatan dengan desain melengkung.

Jembatan Holtekamp itu berwarna merah, tak heran masyarakat setempat menjulukinya sebagai Jembatan Merah.

Desain kerangkanya mirip dengan jembatan di Palu, Sulawesi Tengah, yang rusak dihantam tsunami tahun lalu. Rangka bentangan Jembatan Holtekamp dirakit di PT PAL Surabaya, Jawa Timur.

Rangka jembatan seberat 2.000 ton dan diangkut dengan kapal tongkang berukuran 300 feet tahun lalu. Menempuh perjalanan berjarak 3.200 kilometer selama 17 hari dari Surabaya, rangka jembatan itu tiba di Jayapura pada akhir 2017.

Jembatan Holtekamp membentang di atas Teluk Youtefa, memiliki panjang 732 meter. Holtekamp menjadi jembatan terlebar pertama di Indonesia dengan empat lajur untuk dua jalur.

Ketika berada di atas jembatan ini, landskap hijau perbukitan dan pulau-pulau kecil di Teluk Youtefa mendominasi bentang alam. Deburan ombak pantai, terdengar dari atas jembatan. Kampung apung nelayan menghiasi salah satu sudut pemandangan dari atas jembatan itu. 

Masyarakat yang melewati jembatan bisa singgah di Pantai Hamadi yang berada di sekitarnya. Sementara nama Holtemkamp diambil dari pantai di sekitar yang menawarkan keindahan alam luar biasa. Kedepan, jembatan ini juga diharapkan menghidupkan perekonomian daerah sekitarnya. Masyarakat bisa menggunakan Jembatan Holtekamp untuk menuju perbatasan dengan Papua Nugini.

Waktu tempuh dari Jayapura ke Skouw, pos perbatasan antarnegara di Distrik Muara Tami, bisa terpangkas separuh hanya tinggal satu jam 20 menit. Pos perbatasan selama ini dikenal menjadi tempat transaksi antara warga Papua Nugini dan Indonesia.

Jembatan Holtekamp diklaim bisa bertahan sampai 1.000 tahun kemudian. Dari uji ketahanan gempa, jembatan ini mampu bertahan dari guncangan berkekuatan 7,0 SR.